Kamis, 20 Februari 2014

cerita TIGAberSATU

secuil cerita kita

aku tau kita mulai lelah..

jalan mulai tertatih bak anak kecil yang baru mengenal cara berjalan.

tapi aku yakin kita punya semangat pantang menyerah seperti anak kecil itu.

yang akhirnya dia dapat berlari sekencang semangatnya untuk terus maju.



saat yang lain menyerah , 

kita saling memberi semangat . .

kita mengulurkan tangan kepedulian kita . .

 

 

aku sadar kita mulai tak seimbang..

bagai bocah kecil yang sedang belajar sepeda.

dengan sombong terus mengayuh..

terus dan terus..

karena itulah yang harusnya terjadi untuk menahan beban tubuh ini agar seimbang diatas sepeda.








yang pada akhirnya kita tau bagaimana rasanya jatuh,

harus berdiri,

mulai mengayuh dan melaju kembali







saat mulai bisa berjalan, kita ingin bisa berlari

saat sudah bisa bersepeda, kita ingin balapan dengan teman-teman

kita harus sama-sama percaya , semua itu dapat kita lakukan . . .




 

 

 

 

 

karena kita memiliki kekuatan

karena kita memiliki semangat dan,

karena kita memiliki KEYAKINAN . 


 

bahwa kita akan tiba di garis finish . .

tanpa cedera . . 

karena semua itu tidak ada yang kebetulan. Ini sudah suratan takdir kita bertemu, bersama berlari menuju cahaya terang itu

Sabtu, 02 November 2013

REFLEKSI DIRI

Di saat-saat tertentu terkadang kita memang perlu diam ditempat sejenak atau bahkan mundur beberapa langkah untuk bisa mencapai tujuan.
Dengan begitu, kita tidak cuma bisa menjadi pemenang tapi juga bisa bermanfaat untuk orang lain.
untuk apa jadi pemenang tapi kemenanganmu cuma jadi duka untuk orang banyak dan pada kenyataannya malah mendzolimin. *liat cermin*

Cobalah untuk lebih sering menggunakan telinga daripada mulut dan otot leher.
Allah itu nyiptain dua telinga dan satu mulut, (mungkin) salah satu tujuannya agar kita mau lebih banyak mendengarkan (pendapat orang lain) daripada (ngotot) berbicara mengutarakan (keegoisan) pendapat kita sendiri. bukan Allah ga punya maksud apa-apa. kitanya aja yang kadang ga ngeh atau lupa sama fungsi anggota tubuh kita yang posisinya itu sangat dekat dengan kita.

ga rugi ko dengerin pendapat orang lain. malah ilmu kita semakin bertambah. pengetahuan kita semakin luas.
dan kalo mau didenger itu , ya harus mau ngedengerin dulu.
ga ada istilah , "pasti dia mau dengerin aku, walaupun aku ga pernah dengerin setiap dia berpendapat."
jika itu terjadi, bisa dapat dipastikan, orang tersebut merasa kesal dan ngedumel dalam hati ketika ngedengerin kita berpendapat / berbicara. Atau bahkan saat orang lain menyebut nama kita, orang tersebut merasa eneg!
Efeknya dahsyat!

Ingat, hidup ga sendiri.
ada orang lain loh di sekitar kita yang punya ego yang sama dengan kita, yaitu ingin pendapatnya didengarkan.
Bisa aja kan, orang yang baru saja kita dengarkan pendapatnya itu menjadi satu-satunya orang mau mengurusi jenazah kita saat kita wafat, karena dia sudah merasa dihargai dengan mau nya kita dengerin pendapatnya dia .
dan ternyata ga ada orang lain lagi yang mau ngurusin jenazah kita karena ego nya kita yang ga pernah mau dengerin pendapat orang-orang lain sebelumnya.

Jadi, mari sama-sama belajar menghargai. bukan mengedepankan emosi dan keegoisan.
emosi dan keegoisan itu cuma intermezzo aja, biar hidup ini ga flat.
tapi kalo kebanyakan intermezzo nya kan ga enak juga...
sama kaya lagi nonton tv, kalo kebanyakan iklan, lama-lama jadi ga asik! :D

-belajar dari hal (si) kecil- 031113
Ohhh,, ini alasannyaaaaa....
Hari ini aku berniat "mengaburkan diri" pasca UTS ketempat yang jauh dari segudang aktivitasku. ku niatkan untuk memperbaiki silaturahmi bersama orang-orang yang ingin sekali aku temui. karena aku berpikir mungkin kesulitan-kesulitan yang ku hadapi selama ini karena kurangnya aku berkunjung ke orang-orang, melakukan perjalanan jauh yang membuat diri ini sadar akan makna hidup, berinteraksi dengan orang asing, ya orang baru. Awalnya aku memilih kota Sidoarjo, karena ku pikir disana aku punya sodara yang bisa aku jadikan tempat berteduh dari hujan dan panas serta angin kencang. setidaknya ketika mau makan, makanan udah tersedia. pengen makan ini, bisa dengan gampang disajikan secara sederhana namun penuh makna. Lebih kepada kangen dilayani sih sepertinya. mungkin lebih tepatnya kangen suasana rumah sederhana yang menyejukkan jiwa, tempat berbagi cerita , canda tawa kepada ayah ibu. Tapi melihat waktu yang aku miliki tak cukup banyak untuk berlibur , walaupun hari liburnya bisa aja aku buat seminggu, tapi aku teringat pada tanggung jawabku pada orang-orang yang lebih banyak lagi yang telah mempercayaiku pada suatu amanah mulia, menurutku. jadi terlalu Egois rasanya jika waktu libur hanya untuk memanjakan diri sendiri dibalik kesulitan orang lain. yang langsung terbayang oleh ku pada saat itu adalah wajah adik-adik , calon kaka baru, para petinggi, kaka divisi dan departemen beserta orang yang sudah aku anggap sebagai sodara seperjuanganku dalam jalan "dakwah". Akhirnya setelah mempertimbangkan segala hal dan bertatap muka dengan sang kaka, aku memutuskan untuk menggunakan dua hari saja waktu untuk memberikan hak psikis ini agar ter-upgrade kembali sehingga siap menerima berbagai cemoohan, kritik, ide, saran, pressure dan hal-hal lain yang tak terduga. Dengan begitu aku langsung mengganti destinasi liburan ke kota yang dekat dengan biaya yang cukup teratasi oleh kantong mahasiswi tapi masih tetap bisa aku dapatkan kebutuhan - kebutuhan psikisku, yaitu Solo dan Jogja. Pemantapan destinasi sudah langsung aku tujukan pada dua kota itu. dengan asumsi bahwa kota itu merupakan tempat yang nyaman untuk merileksasikan diri, ditambah dengan orang-orang yang sangat ingin aku kunjungi, sepertinya liburan ini bakal menjadi liburan asik sepanjang masa yang aku punya setelah pendakian ke semeru beberapa waktu lalu. sudah terbayangkan olehku , disana aku akan mendapat udara "segar" tanpa beban dan tuntutan harus begini begitu, suara orang yang dapat mengobati sedikit kerinduan, candaan yang membuatku bisa bebas melepas semua kepenatan, tawa yang bener-bener dari diri sendiri tanpa batasan yang membuatku tak bebas berekspresi, obrolan santai yang tak sekedar obrolan semata karena aku sekaligus dapat mengetahui keadaan teman-temanku yang lebih banyak lagi disana. Ya karena cuma ditempat itu aku bisa menemukan hal-hal yang bisa membawaku pada suasana kampung halaman, padahal itu bukanlah kampung halamanku... :') lebih tepatnya aku telah terjebak dengan orang-orang baik yang aku miliki disana. Terimakasih untuk "sodara-sodara" yang telah mendukung upgrading diri ini... nantikan aku kembali bersama kalian yaaaa :""") *Terharu punya "sodara" kaya kalian* *Speechless*


Bandung-Solo-Sragen-Jogja
Semua Punya Cerita
30-31 , Oktober 2013








keraton solo




kue lekker


keraton solo


selat solo



stasiun solo balapan. solo-jogja




 candi prambanan


Sabtu, 04 Mei 2013

Jembatan Ambruk!





Ambruknya jembatan diduga karena adanya kegiatan penambangan pasir yang berada tak jauh dari jembatan ini. Tambang pasir yang dimiliki orang pribadi ini menurut keterangan warga sekitar, sebenarnya tidak layak beroperasi karena jarak tambang pasir dengan jembatan tidak memenuhi syarat dan melanggar Undang-Undang. Sehingga merusak lingkungan hidup. Namun pada kenyataannya tidak ada larangan penambangan pasir dari pemerintah daerah dan sampai sekarang kegiatan penambangan pasir masih terus dilakukan hingga jembatan yang terletak di desa Janji Kecamatan Rantau Utara ini ambruk pada tanggal 8 Februari 2013. Sebelumnya, 7 bulan yang lalu tanah pada pinggiran jembatan sempat longsor. Oleh masyarakat sekitar secara swasembada menimbun memperbaikinya hingga jembatan dan jalur transportasi dapat dipergunakan kembali. Akan tetapi pengerukan yang terus dilakukan ini diduga yang menjadi salah satu penyebab ambruknya jembatan yang menghubungkan empat perkampungan yaitu kampung gunung muriya, aek torop, karya maju dan Pinang Lombang.
Ironisnya, jembatan putus ini akan mengakibatkan usaha perkebunan rakyat yang menjadi mata pencarian masyarakat sekitar menjadi terhambat. Karena salah satu jalan terdekat yang menghubungkan daerah perkebunan. rakyat dengan tempat penjualan hasil perkebunan yang mayoritas kelapa sawit atau biasa disebut RAM itu terputus. Putusnya jembatan tidak mengurangi semangat anak anak menuju ke sekolahnya. Walaupun jembatan yang biasanya mereka lalui ambruk dan cukup membahayakan keselamatan, mereka tetap melakukan perjalanan menuju sekolahnya walaupun harus ditempuh dengan berjalan kaki karena angkutan umum yang biasa mereka gunakan tidak dapat melewati jembatan tersebut. Semangat dan keceriaan masih tetap tampak di wajah murid maupun guru . Ironis memang, melihat keegoisan manusia khususnya orang-orang di senayan yang (mengaku) wakil rakyat itu sibuk memperkaya diri sendiri dan partai nya tanpa memperdulikan daerah-daerah yang kurang mendapat perhatian. Masyarakat berharap agar jembatan ini dapat segera diperbaiki. Agar perekonomian rakyat dapat kembali stabil dan anak-anak dapat kembali sekolah di Negeri Indonesia yang (katanya) sudah Merdeka tanpa harus mengkhawatirkan keselamatan mereka.




Oleh: Khairunnisa Idris

Rantauprapat, Jumat, 8 Februari 2013
Ditulis dari kisah nyata


 

Jembatan yang miring akibat tanah tempaat pondasi tergerus air karena ada penambangan pasir


terdapat lubang menganga yang memutus jalan  
Lokasi Penambangan Pasir yang tidak jauh dari jembatan ambruk


Kamis, 18 April 2013


HANYA INGIN MENULIS

Hujan seharian membuatku terjebak dalam lembabnya dinding kamar.
keadaan semakin hari semakin menjadi guru yg tengah mengajarkan tentang kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan. Namun hanya itu pula yg bisa membuat ku terus mengenggam kuat keinginan untuk segera melihat dunia luar yg lebih luas, ya disana. ditempat 5 tahun lalu yang aku planning kan bersama seragam putih abu abu ku.
jika 4 tahun sblmnya aku berani mewujudkan setengah mimpi ku dgn keluar dari hangatnya rumah sederhana kami. Hari ini aku mengingat segenggam mimpi ditanganku 5 tahun yg lalu, tentang suatu tempat yg aku tulis kecil didinding kamarku namun memiliki kekuatan besar.
tulisan yg sering ku baca setiap malam saat aku mau tidur, sebelum membaca doa.
Berharap mimpi malam-malam ku dapat mengantarkan jiwa ini kesana barang sejenak saja.
tempat yang jauh dari pandangan ini, namun sangat rapat dengan diri dan keinginan.
ahhh, rasanya diri ini terlalu kecil untuk menggapainya. namun bukan tak mungkin.
akhirnya hari ini ku putuskan untuk membaca dan hibernasi dikamar yg telah menjadi tempat semua cerita panjangku, tempat semangat ku, tempat kegigihanku, keletihan, serta airmata kala merindukan hangatnya rumah sederhana kami dan segala problem yg tak dapat ku putuskan sendiri.
Semoga ini akan dapat menjadi waktu yg benar-benar relaks setelah hampir dua pekan disibukkan dengan exam dan berbagai macam ragam activity yang cukup menyita waktu, pikiran dan tenaga.

-Tulisan si Kecil-

Yahoo! Messenger,how are you? (Part I)

Aahh,, ingin ku bertanya kabarnya sekarang. Namun sepertinya tak mungkin. Jika ku hitung, sudah hampir 5 tahun sejak awal kami bertukar identitas di sebuah media social. Namanya muncul menyapa di layar computer ku dan aku pun membalas sapa nya. Dari situ dimulailah pertemanan kami hingga sekarang. Kami dipisahkan oleh selat sunda dan jarak yang cukup jauh. Namun, ntah apa yang membuatku bisa betah berlama-lama berbicara dengannya. Mungkin karena dia memang orang yang easy going menjadi alasanku untuk leluasa berbagi cerita dengannya. Selain itu, perbedaan usia kami hanya 6 bulan yang menyebabkan mindset untuk menemukan jalan keluar pada suatu problem tak jauh berbeda, sehingga aku merasa memiliki teman logika yang dapat mengerti aku. Berbeda dengan orang-orang lain yang ada didalam list Yahoo Messenger ku. Sejak itu, dia menjadi orang yang selalu ku tunggu tiap kali ku buka YM! dulu. Walaupun aku sudah sengaja ke warnet di waktu weekend untuk melatih conversation ku dengan foreign di dunia maya, sambil berharap dia ada disana. Tapi namanya tetap saja jarang muncul. beberapa kali aku mengirimkan sebuah message “hei, kabari aku kalau kau sedang online” saat dia offline dan aku sedang berada di warnet. Terkadang lama sekali dia membalas message ku. Bisa sampai berminggu-minggu. Itu karena memang waktu yang dimilikinya untuk keluar boarding tidaklah banyak. Hingga aku lulus dari seragam putih abu-abu, kami tetap terus berkomunikasi. Selama beberapa hari sebelum aku melaksanakan Ujian Nasional, dia tampak hadir di list  ku. Beberapa kali aku menceritakan kekhawatiranku padanya, dan dia lagi-lagi berhasil menenangkanku dengan gaya santainya. Sampai pada waktu itu tiba, saat aku memutuskan mengikuti saran ibuku untuk menerima tawaran kuliah selama satu tahun di kota kembang. Dengan kekuatan mental yang kurasa belum terkumpul 100%, lagi-lagi dia berhasil membantuku untuk mensugesti hal positif. Huwaaaa… thank you mister :)
Bersambung ^^
Martabak Manis, Tri
Bukan hanya tentang perjuangan untuk mendapatkannya, tapi juga perjuangan untuk menghabiskannya. Setelah melewati jalan yang becek dan penuh kubangan, akhirnya aku tiba di suatu tempat yang sudah ku khayalkan sejak sore. Ku pesan satu porsi. Langsung saja si abang penjualnya membuatkan untukku. Beberapa saat kemudian lewat sebuah mobil tanpa perkiraan ada sebuah kubangan yang menganga lebar berisi air sisa hujan seharian. Aku yang tengah menunggu pesanan merasa sudah berada di posisi aman, namun tiba-tiba “ouch! Astaghfirullah” airnya mengenai sebagian pakaianku. Seketika aku mengutuk si pembawa mobil itu dan ngedumel dalam hati. Tapi akhirnya aku tersadar bahwa itu tidak baik. Tak lama kemudian pesananku siap. Aku membayar dengan selembar uang Sultan Mahmud Badaruddin II dan Pangeran Antasari. Lalu si abang penjual memberiku selembar uang Kapitan Pattimura. Bergegas aku kembali menuju kosanku yang tak jauh dari tempat itu. Berjalan sambil menikmati tiris nya malam, tak terasa sudah tiba didepan sebuah bangunan berlantai 3. Dengan menjinjing alas kaki, ku tapaki satu per satu anak tangga hingga menuju lantai tertinggi bangunan itu. Ku buka pintu sambil mengucap Basmallah serta salam. Langsung ku tutup pintu dan menuju kamar mandi untuk membersihkan kaki serta alas kaki yang kotor terkena beceknya jalanan, setelah itu ku cuci tangan dan tak sabar aku duduk menikmatinya. Hah… rasanya tak mudah menghabiskan seporsi sendiri tanpa tri.
Ya, tri adalah orang yang sudah kukenal hampir 3 tahun. Selama hampir 2 tahun aku dan tri menempati bangunan yang sama selama menimba ilmu disini. Orang yang sudah kuanggap layaknya saudara sendiri ini, selalu menjadi korban masakanku yang tergolong amatiran. Kami juga sering menghabiskan waktu bersama dikamar tidurku. Biasanya kami menghabiskan waktu bersama untuk makan malam diluar, menonton tv, belajar bersama, bahkan kami pernah menghabiskan waktu hingga pukul 3 pagi hanya untuk saling bertukar cerita, seperti layaknya saudara, kami juga saling mengingatkan. Tri yang selalu terlihat lahap setiap kali menikmatinya, tak tampak berada disebelahku. Bukan tanpa sebab, tetapi tri memang sedang menghabiskan waktu pekan liburan pasca midtest di Lampung, tempat yang sangat ingin dikunjunginya sejak akhir tahun lalu. Padahal baru semalam kami menghabiskan waktu bersama untuk mendengarkan record materi last midtest tapi aku sudah merasa kehilangannya ketika menikmati ini tanpa tri. Ya memang sangat terasa perbedaannya ketika menikmati ini tanpa mendengar kebawelan dan tawa nya.
Gerimis Malam
Dayeuh Kolot, 18 April 2013